Sabtu, 21 Mei 2016

A Rare Conversation

Hari ini bertemu dengan seorang kawan kuliah. Secara kebetulan kami berada di tempat yang sama dan akhirnya janjian untuk ketemuan. Teman saya ini baru saja di terima di program S2 Infrastructure Investment and Finance di University Collage of London, Inggris. Keren abis. Kekerenan dia engga berhenti di situ saja karena dia juga dapat beasiswa LPDP. Mantab abis dah.

Tulisan ini saya buat untuk mengingat perkataan-perkataan dia kepada saya. Kesimpulan yang saya catat adalah:
1. Jangan ragu untuk bercita-cita. Bisa jadi cita-cita lo yang paling liar pun suatu saat akan terwujud.
2. Untuk mengejar cita-cita lo itu lo harus mempersiapkan segala sesuatunya dari jauh-jauh hari dan harus dimulai dari sekarang.
3. Punya mentor itu sangat penting. Dari dia lo bisa belajar dan dapat menghindari kesalahan-kesalahan yang pernah dia hadapi.
4. Punya role model juga penting. Lo mau mengejar siapa? Dari situ lo bisa menemukan target yang terukur.
5. Jangan dengerin apa kata orang, tetap fokus ke cita-cita lo.
6. Sesibuk apa pun pekerjaan lo, sempatkan diri lo untuk mencurahkan waktu untuk mengerjakan sesuatu yang dapat mendukung lo dalam mengejar cita-cita.
7. Doa dari ibu itu penting! Minta beliau selalu mendoakan lo dan dengerin nasihatnya juga.
8. Kalo lo mau lanjut S2 mungkin besaran penghasilan lo dari pekerjaan saat ini tidak begitu penting. Jangan bandingkan dengan orang lain. Setiap orang punya jalannya masing-masing.
9. Jangan pernah takut untuk memulai dan jangan pula takut untuk gagal. Setiap langkah yang lo lakukan itu tidak ada yang sia-sia, tetapi jadi pengetahuan yang terakumulasi.
10. Lo harus bisa "jual diri" lo dengan baik kepada orang lain saat wawancara kerja/kuliah/beasiswa.

Saya termotivasi dan bersemangat mendengarkan ucapannya. Semoga suatu saat saya juga bisa menyusulnya untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Amin.

Minggu, 15 Mei 2016

Tercabutnya Nisan Ayah

Terlintas membaca judul tulisan ini nampak horor, tetapi segera jauhkanlah pikiran itu! Tulisan ini sama sekali jauh dari konten mistis.

Pada tanggal 4 Februari 2015, tepat satu hari setelah saya yudisium, ayah saya meninggal. Satu pertanyaan yang muncul ketika itu adalah di manakah ayah saya dikubur? Entah mengapa saat pertanyaan tersebut itu muncul, saya juga bertanya-tanya di dalam hati di manakah saya akan dikubur pada saat saya meninggal nanti? Ternyata ayah saya telah menitipkan pesan untuk dikubur di lokasi pemakaman kakek dan neneknya dari garis keturunan ibu.

Ayah saya merupakan cucu laki-laki pertama dari kakek dan neneknya. Kebetulan semua anak mereka adalah perempuan. Jadi begitu bahagianya mereka dengan kelahiran ayah saya. Kemudian dari kecil sampai SMP, ayah saya dirawat oleh kakek dan neneknya. Mungkin begitu sayangnya kakek dan nenek pada dirinya, begitu juga sebaliknya, maka ayah saya menitip pesan untuk dikuburkan di lokasi pemakaman kakek dan neneknya. Akhirnya, keluarga kami memenuhi keinginan ayah saya tersebut.

Ayah saya dimakamkan di Desa Dukuh, Kecamatan Maleber, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Almarhum dikuburkan menjelang waktu isya. Suasana begitu gelap dan basah ketika itu (sebelumnya hujan turun begitu lebat). Menurut adat istiadat setempat, makam baru belumlah bisa dibangun dengan nisan dari batu karena kondisi tanah yang masih belum stabil/mengeras. Jadilah makam ayah saya hanya diberi dua batang bambu sebagai penandanya.

Di dekat makam ayah saya terdapat pohon beringin yang begitu besar. Dahan-dahan yang begitu banyak dan ditumbuhi dengan dedaunan yang begitu lebat memberikan keteduhan. Tepat di tengah pohon beringin itu terdapat sebuah lubang. Lubangnya cukup besar, seukuran manusia dewasa. Belakangan saya baru tahu, ternyata ada sesosok makhluk yang tinggal di lubang tersebut. Dari kejauhan, memang tampak lubang tersebut dapat dijadikan tempat tinggal. Akan tetapi, siapakah yang mau tinggal di situ? Mungkin hanya orang gila saja yang mau tinggal di dalam lubang di tengah pohon beringin di lokasi pemakaman yang jauh dari pemukiman masyarakat. Apa mau dikata, memang benar ada makhluk yang tinggal di dalam lubang tersebut.

Makhluk yang tinggal di dalam lubang tersebut adalah manusia. Tepatnya manusia yang akal sehatnya telah hilang alias orang gila. Pernah saya lihat sosoknya. Pakaiannya begitu kumal dan tidak terawat. Di lehernya terkalung botol air minum mineral. Entah mengapa dia menjadi gila. Akan tetapi, ketidakwarasannya menakuti kami. Keluarga saya ketika akan berziarah ke makam ayah saya selalu memantau situasi apakah ada kehadiran orang gila itu di sekitar makam ayah saya. Jika ada, kami tidak berani berziarah karena takut ketidakwarasannya membahayakan kami. Apabila dia tidak ada, barulah kami berani untuk berziarah.

Orang gila itu sering mencabut bilah bambu yang menjadi nisan sementara ayah saya. Apabila telah dipasang kembali, dia akan mencabutnya lagi. Walhasil, ketika saya mengunjungi makam ayah saya terakhir kali, makam ayah saya tidak memiliki penanda. Hanya berupa gundukkan tanah dan memori kolektif masyarakat setempat yang menjadi penandanya. Jujur saya pribadi tidak merasa marah, begitu pula yang saya lihat dari keluarga saya yang lain. Mengapa harus marah kepada seorang yang tidak memiliki akal?

Tidak terasa sudah hampir dua tahun ayah saya telah meninggal. Nampak tanah pada makamnya telah mengeras. Menurut adat istiada setempat, setelah 1 atau 2 tahun, barulah suatu makam dapat diberi nisan batu sebagai penanda. Mungkin setelah lebaran nanti, keluarga kami akan memberikan batu pada makam ayah saya. Saya berharap dengan pemasangan nisan batu pada makam ayah saya nantinya, orang gila itu tidak akan mengusik makam ayah saya kembali.

Hari ini saya mengunjungi makam ayah saya. Di sebelahnya tampak sebuah makam baru. Mungkin keberadaan makam baru tersebut, sedikit mengusik hati ibu saya. Memang saya tidak bertanya langsung kepada dirinya, tetapi naluri saya mengatakan bahwa sepertinya ibu saya sedikit terusik dengan kehadiran makam itu. Sebab ada keinginan ibu saya agar suatu saat nanti dapat dimakamkan dengan dengan ayah saya. Akan tetapi, namanya juga tempat pemakaman umum, siapa pun berhak dimakamkan di situ. Tersirat dalam hati tentang urgensi memiliki tempat pemakaman keluarga. Haaaaahhhh. "Jangan hanya mikirin mau punya rumah di mana nantinya, pikirin juga mau dikubur di mana nantinya De?", kata hati saya. Bukankah kuburan itu yang luasnya hanya beberapa meter persegi adalah rumah "abadi" kita nantinya?

Minggu, 01 Mei 2016

Selamat Datang Mei!

Apabila bulan Maret-April adalah bulan yang dipenuhi kegalauan terhadap masa depan, maka bulan Mei ini harus menjadi bulan "take an action". Ya, mimpi besar sudah ditentukan dan saatnya mulai langkah nyata.

Saya memprediksi bahwa bulan Mei ini akan sangat sibuk. Beberapa kegiatan yg akan dilaksanakan di bulan Mei ini adalah:
1. Pembuatan syntax SNRT 2016
2. Menghadiri training enumerator SNRT 2016, kemungkinan besar saya akan pergi ke Pontianak
3. Witness lapangan SNRT 2016, saya berharap mengunjungi Ambon
4. Membantu melengkapi tabel dan grafik artikel jurnal Pak Padang serta merumuskan ide penelitian baru
5. Membantu Bu Rury dalam menghasilkan tabulasi kemiskinan dari data Susenas
6. Membantu penelitiannya Bu Rury dan Bu Rima mengenai kaitannya unintended fertility dan bantuan PKH *tentatif
7. Membantu Pak Turro dalam menulis paper untuk konferensi IRSA mengenai National Transfer Account
8. Menyelesaikan modul tenaga kerja khusus dari Kemenaker
9. Menunggu tugas lanjutan dari BP3IPTEK Jabar *gk jelas kelanjutannya bagaimana

Saya berharap dari kegiatan-kegiatan tersebut akan membentuk saya menjadi pribadi yang profesional. Selain itu, saya juga berharap kegiatan-kegiatan tersebut dapat menumbuhkan ekosistem akademik bagi saya.

Di luar kegiatan tersebut, di bulan Mei ini pula saya akan mulai serius dalam meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris saya. Hal ini ditandai dengan saya mulai berpartisipasi dalam conversation class di LBI. Wacananya sih, saya juga mulai mereview grammar dan latihan untuk meningkatkan skor TOEFL. 

Wacana lain sih, saya maunya di bulan ini mulai mencicil mereview materi statistika dan ekonometrika. Saya berharap bisa menyempatkan waktu untuk itu.

Hal-hal lain yang menjadi target saya di bulan ini adalah menyempatkan baca-baca novel dan buku lainnya, seperti biografi Bung Hatta. Ya karena hidup harus balance, kehidupan sosial dengan teman-teman juga harus terjaga dengan baik. Kalo punya rezeki, pengen deh di akhir bulan bisa kabur ke Bengkulu buat liburan sejenak.

Terakhir, dalam rangka menyambut Ramadhan, di bulan Mei ini saya juga harus semakin memperbaiki kualitas hubungan dengan Tuhan.

Yak bulan Mei, semoga saya bisa melewatinya dengan baik :)

Minggu, 24 April 2016

Mimpi Besar, Ketakutan-Kekhawatiran, dan Prinsip

Jam menunjukkan pukul 1.37 dini hari. Akan tetapi, saya begitu gelisah dan tidak tenang, sulit untuk memejamkan mata. Melalui tulisan ini saya mencoba mengurangi rasa kegelisahan yang saya rasakan. Saya berharap tulisan ini dapat menjadi penutup dari tema tulisan saya sebelumnya mengenai kebimbangan terhadap masa depan. Jenuh rasanya menulis tema yang sama, tetapi apa mau dikata itulah perasaan yang sedang saya rasakan belakangan ini.


Sesuai dengan judulnya, tulisan ini terbagi ke dalam tiga bagian, yakni mengenai mimpi besar, rasa ketakutan dan kekhawatiran, dan prinsip hidup saya ke depannya.


Pertama, mimpir besar. Saya nyatakan dengan tegas bahwa mimpi besar saya adalah menyusul teman saya untuk bisa melanjutkan pendidikan S2 di luar negeri dengan beasiswa. Program studi yang akan diambil kemungkinan besar adalah demografi di Australia National University. Sumber beasiswa yang terpikirkan adalah LPDP. 

Jujur mimpi ini sedikit tidak realistis bagi saya dengan melihat kondisi saya saat ini. Kendala utamanya adalah di permasalahan bahasa, Bahasa Inggris saya pas-pasan. Jelas jawaban dari masalah ini adalah belajar dengan tekun. Akan tetapi, entah mengapa semangat dan daya ungkit pada diri saya telah padam. Tidak ada gairah untuk memulai. 

Masalah lainnya adalah ekosistem akademik dalam diri saya belum tumbuh dan berkembang dengan baik. Padahal, untuk melanjutkan studi seharusnya saya sudah mulai mencicil membaca topik terkait demografi dari artikel jurnal, me-review materi statistik dan ekonometrika, dll.

Rancangan rencana untuk merealisasikan mimpi besar ini sudah muncul. Akan tetapi, saya tidak memiliki gairah untuk memulai langkah nyata. Sebegitu pesimiskah saya?


Kedua, rasa ketakutan dan kekhawatiran. Apabila disimpulkan rasa ketakutan dan kekhawatiran yang saya alami dapat dikategorikan ke dalam 3 bentuk.

a. Rasa takut dan khawatir merasa tertinggal
Entah mengapa saat ini saya memiliki rasa paraoid tak beralasan, yakni merasa takut tertinggal. Ya takut tertinggal dari sisi pendapatan, ilmu dan wawasan, kemampuan bahasa, dan pengalaman dari teman-teman terdekat saya. Masalah ada dalam pikiran saya yang terlalu overthinking. Setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing, begitu pula dengan saya memiliki jalan hidup sendiri dan tidak perlu menjadi orang lain.

b. Rasa takut dan khawatir tidak memiliki sahabat baik
Saya menyadari bahwa rasa takut dan khawatir ini adalah ilusi, tetapi entah mengapa at some point ilusi ini tampak begitu nyata! Pada kenyataannya ada begitu banyak teman baik di sekeliling saya, tetapi terkadang hidup saya begitu sunyi. Ingin sekali saya bermain dan berkumpul dengan teman-teman, tapi mengapa mereka begitu acuh? Mungkin kenyataannya tidak begitu! Bisa jadi ini karena saya yang begitu sibuk sehingga suka tidak bisa bertemu jika diajak berkumpul, bisa aja karena saya yang merasa sungkan untuk meminta agar bisa diajak untuk berkumpul, atau seribu alasan positif lain yang seharusnya terpikirkan oleh saya untuk menghindari pikiran negatif!

Pada kenyataannya, selama ini saya telah menghabiskan begitu banyak waktu dengan sendirian. Selama itu, saya dapat melewatinya denga baik. Namun, belakangan di tengah masa-masa penuh kebimbangan ini, perasaan untuk diperhatikan, dinasehati, dan didampingi begitu meluap-luap.  Mengobrol, bercanda, bermain, dan berkumpul dengan teman menjadi kebutuhan yang semakin urgent, setidaknya dengan itu saya menjadi obat penawar dalam mengatasi kebimbangan saya terhadap  masa depan.

c. Rasa takut untuk melangkah ke arah kedewasaan
Saya merasa terkungkung di dalam sosok yang childish, bermental rapuh, dan tidak mandiri. Mungkin penyebabnya adalah dari pola asuh yang kurang tepat dan pengaruh dari faktor lingkungan tempat saya tumbuh berkembang. Mungkin intinya saya merasa takut untuk menjadi dewasa. Hal ini mungkin tercermin dari sifat-sifat saya sebagai berikut ini:
- belum bisa hidup mandiri (saya tidak mau menyebutkan secara spesifik)
- menghindari interaksi dengan orang lain, terutama orang baru
- sikap yang acuh tidak acuh terhadap pekerjaan apabila ada orang yang lain yang rasa dapat mengerjakannya lebih baik dari saya
- keraguan untuk memulai suatu komitmen yang mengikat
- takut memulai suatu hal yang baru di luar rutinitas dan kemampuan (padahal dengan mencoba suatu hal yang baru dapat mengembangkan diri saya)
- merasa bingung untuk memulai dan merencanakan jalinan cinta dengan wanita

Dalam pikiran saya, langkah tepat untuk mengatasi masalah ini adalah keluar dari rumah. Momen yang tepat adalah ketika melanjutkan S2. Dengan begitulah, mungkin saya berharap akan menjadi sosok yang mandiri, berani, serta tegar dan kuat dalam menghadapi persoalan kehidupan.

Ketiga, prinsip hidup. Di umur 23 tahun ini, masa di mana penuh dengan kebimbangan terhadap masa depan, saya mencoba membuat 23 prinsip hidup yang akan saya coba terapkan agar dapat mencapai mimpi besar saya dan mengalahkan rasa takut-kekhawatiran saya. Prinsip itu adalah:

1) Perbuatan kita sendirilah yang membuat kira bahagia atau menderita, bukan kebaikan atau kejahatan orang lain. Saya memilih untuk bahagia
2) Hanya mereka yang tidak gentar menghadapi siksaan akan berhasil mencapai apa yang dicitakan
3) Hanya keseimbangan jiwa yang mengatasi rasa suka atau tidak suka, yang dapat mengantarkan manusia pada kedamaian
4) Tidak peduli orang lain butuh diri saya atau tidak, yang penting diri saya ini selalu ada untuk mereka
5) Life is full with ups and downs, the trick is to enjoy the good times and have the courage to go through the bad ones
6) You can't start the next chapter of your life if you keep rereading the last one
7) Don't be afraid to fail, be afraid not to try
8) The only limits in life are the ones you make
9) Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali
10) If you want something you never had, you have to do something you've never done
11) If you only do what you can do, you'll never be better than what you are
12) Don't push past memories deeper inside of yourself, let those memories breath and let old wounds heal
13) One often meets his destiny on the road he takes to avoid it
14) Take action to fulfill your destiny, even if at first you think you suck, you just need to believe you are special
15) You're not going to be lonely for the rest of your life
16) Everyone feels lost at some point
17) You are never entirely without support
18) Being disappointed in yourself just means that you know you can do better
19) It's not your job to live someone else's dream
20) Losing friends is a natural consequence of this stage of your life
21) There will be people you have to leave behind as you grow, and that doesn't make you a bad person
22) Comparisons are completely senseless, unless you use them as motivator
23) If you had it all figured out right now, the rest of your life would be boring


Kamis, 21 April 2016

Taaruf

Kemarin tidak seperti biasanya saya melangkahkan kaki lebih cepat dari kantor menuju ke stasiun. Saya harus mendapatkan kereta ke arah Jakarta secepatnya agar tidak terlambat. Ya saya harus menghadiri taaruf!

Ini merupakan kali pertama saya terlibat dalam taaruf. Taaruf sendiri merupakan pertemuan antara pria dan wanita untuk saling mengenal dengan tujuan akhir adalah pernikahan. Kali ini saya berpartisipasi dalam proses taaruf sebagai wakil keluarga untuk mendampingi kakak perempuan saya.

Dalam pertemuan ini dihadiri oleh tiga pihak. Pihak pertama adalah pihak pria, dia didampingi oleh adik laki-lakinya. Pihak kedua adalah pihak wanita, yakni kakak saya didampingi oleh saya. Pihak ketiga adalah seorang ustadz yang memfasilitasi pertemuan ini.

Sebelum pertemuan ini dilaksanakan, masing-masing pihak saling bertukar CV. Pertemuan diawali dengan tanya jawab untuk menggali latar belakang, pekerjaan, dan visi misi mengenai pernikahan dan kehidupan berumah tangga.

Saya pikir sang pria sudah sangat mapan. Dia adalah seorang pengusaha. Umurnya 4 tahun di atas kakak saya. Dia mempunyai 2 gelar master dari Australia dan Inggris. Pekerjaannya adalah merancang bangunan di daerah Timur Tengah, tepatnya di Muscat, Oman dan Dubai, UEA. Keluarganya berasal dari Surabaya. Dia merupakan pendiri sekaligus CEO dari perusahaan yang dia jalani. Secara umum, perusahaan ini dijalan bersama antara dia dan kedua adiknya.

Pada satu titik, kakak saya bertanya mengenai pendidikan anak. Jawaban dari pihak pria cukup mencengangkan saya. Dia menjawab bahwa anaknya ke depan harus tumbuh besar di Eropa karena lingkungan Eropa yang cocok bagi perkembangan anak, terutama mengenai kualitas pendidikan. Satu hal yang saya sadari di sini adalah saya akan berpisah dengan kakak saya, terpisah dengan jarak yang begitu jauh dan mungkin dengan waktu yang lama. Memang harus saya akui, saya tidak terlalu akrab dengan kakak saya. Akan tetapi, kami telah tinggal selama lebih dari 20 tahun di dalam atap yang sama dan saya baru menyadari suatu saat akan berpisah. Sedih mungkin kata yang bisa merangkum perasaan saya ini, tetapi wanita adalah milik dari suaminya. Saya tahu bahwa pasti perasaan ibu saya akan jauh lebih sedih dari apa yang saya rasakan.

Setelah sekitar satu jam, proses taaruf berakhir. Pihak laki-laki diberi waktu dua hari untuk menentukan apakah melanjutkan proses ke tahap berikutnya atau tidak. Jodoh memang di tangan Allah. Apakah kakak saya berjodoh dengan orang ini atau tidak, saya tidak mengetahui. Dari pertemuan ini, suatu hal yang pasti adalah suatu saat nanti saya akan berpisah dengan kakak saya. Ya itu adalah proses alamiah dari kehidupan.

Hal penting lain yang saya pelajari adalah sebagai seorang lelaki harus bisa diandalkan dan harus memiliki masa depan yang cemerlang. Sebab dipundaknyalah suatu saat nanti istrinya, anak, dan keluarganya akan bersandar. Ya sandaran itu haruslah kuat. Tiba-tiba cermin besar muncul dihadapan saya. Hati kecil ini berkata, "Sudah siapkah saya?"

Tentu hal ini akan menambah kegalauan saya mengenai masa depan, terutama masalah karier dan pendidikan. Tahun 2016 ini menyadarkan saya bahwa masa depan saya tidak semudah yang saya kira. Semoga beberapa hari ke depan, saya tidak over thinking dan larut ke dalam kekhawatiran. Semoga saya bisa tegar menjalaninya.

Senin, 18 April 2016

Pertanyaan pada Diri Sendiri

Apa yang saat ini dibutuhkan?

1. Achievement
Satu-satu jalan untuk mengakhiri kegalauan di tengah pencapaian gemilang orang-orang di sekitar saya adalah saya harus membuat suatu pencapaian gemilang itu juga. Definisi pencapaian gemilang ini luas. Apa pun bentuknya, saya saat ini sangat memerlukan itu. Suatu hal yang dapat dibanggakan. Suatu hal yang dapat meningkatkan kepercayaan diri saya. Akan tetapi, apakah itu?

2. Friend
Saya mengakui hubungan komunikasi saya dengan saudara-saudara saya kurang begitu baik. Walaupun demikian, saya tahu bahwa mereka menyayangi saya.

Akan tetapi, saat ini saya sangat membutuhkan seseorang yang bisa dijadikan tempat bercerita. Mungkin seorang teman selevel dengan saudara. Not just ordinary friend.

Mengapa seorang? Karena tidak mungkin saya menceritakan hal privasi atau beban pikiran ke banyak orangkan? Bahkan, seringkali sangat sulit untuk sekedar mengawali cerita. Hanya kepada orang tertentu saja, cerita itu berjalan secara alami.

Sayangnya, saya juga menyadari bahwa setiap orang memiliki masalah masing-masing. Siapakah yang mau mendengarkan masalah orang lain di saat dirinya sendiri juga memiliki masalah?  Di lain sisi, saya juga harus siap menjadi pendengar yang baik. Timbal baliklah. Akan tetapi, sulit dapat teman seperti itu.

Mungkin harus dibalik, siapkah diri saya nenjadi extraordinary friend untuk orang lain? Teman yang selalu mendengar, berempati, selalu siap sedia memberikan pertolongan moril dan materiil, dan tidak bertindak seperti hakim yang memvonis atau cepat memberikan label tertentu.

3. Ekosistem akademik
Inilah yang saya butuhkan. Suatu kondisi di mana cita-cita saya untuk melanjutkan S2 dapat hidup dengan baik. Di mana api semangat untuk mencapainya tidak meredup dan terus berkobar. Dapatkan saya dapat beradaptasi dalam ekosistem tersebut?

Apa yang harus segera dilakukan?
- Belajar Bahasa Inggris
Melanjutkan S2 di luar negeri bukanlah suatu keharusan, tetapi mungkin suatu pencapaian yang luar biasa. Prasyarat terpenting dari itu adalah menguasai Bahasa Inggris. Bahkan, keajaiban yang paling luar biasa sekalipun tidak mungkin terjadi apabila saya tidak menguasai Bahasa Inggris. Let's take an action NOW!

Apa keinginan saya sebenarnya?
- Polymath
Mau jadi apakah saya sebenarnya? Saya teringat kembali cita-cita terbesar saya adalah menjadi seorang polymath, seseorang yang menguasai interdisiplin ilmu pengetahuan. Ingin sekali saya menguasai ilmu ekonomi, geografi, sejarah, demografi, sosiologi. Mungkinkah? Kalo mungkin, jurusan apa yang harus saya ambil untuk merealisasikan cita-cita itu?

Apa yang saat ini ditakuti?
- Membentuk keluarga
Dapatkah saya bertemu dengan jodoh saya? Di tengah kegalauan saya terhadap karier, pendidikan, dan masa depan, dapatkah saya mencurahkan perhatian untuk mencintai orang lain? Saat ini saya merasa takut mencintai seseorang, takut saya tidak bisa memberikan perhatian dan kasih sayang yang layak.

Saya menyadari bahwa tidak ada keluarga yang sempurna di dunia ini. Akan tetapi, mampukah saya nantinya membina keluarga yang harmonis?

Apa yang mengganjal hati?
- Hubungan dengan Tuhan
Pada titik ini, saya merasakan suatu kejenuhan yang luar biasa. Di mana ibadah ritual belum bisa memberikan ketenangan jiwa pada diri saya. Akan tetapi, satu hal yang saya sadari adalah saya tidak mungkin untuk meninggalkan ibadah ritual itu! Atau nantinya saya akan jatuh terperosok lebih dalam. Adakah yang salah dengan cara saya beragama?

Minggu, 10 April 2016

Titipan Doa

Kakak tertua saya esok akan pergi umrah. Hari ini dia meminta saya untuk menuliskan doa saya di secarik kertas agar dapat dia bacakan di tanah suci. Berikut inilah doa yang saya tulis. Semoga Allah menerimanya. Amin.