Senin, 18 Maret 2013

ANALISA SINGKAT AGLOMERASI INDUSTRI PENGOLAHAN DI KABUPATEN BEKASI

Analisa Singkat Aglomerasi Industri Pengolahan di Kabupaten Bekasi 1. Latar Belakang Sekitar 55% sektor industri pengolahan di Indonesia teraglomerasi di Provinsi Jawa Barat., sebagian besar berada di Kabupaten Bekasi. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2008, sektor industri pengolahan mendominasi struktur perekonomian Kabupaten Bekasi, yaitu sekitar 78,63%. Dari luas Kabupaten Bekasi sebesar 127.388 ha, 6.500 diantaranya diperuntukan untuk kawasan industri dan 3.500 ha untuk zona industri. Luas lahan industri yang terbatas menyebabkan harga lahan industri di Bekasi menjadi sangat tinggi, bahkan tertinggi di Indonesia, yaitu rata-rata sekitar US$127,51 per meter persegi. Tingginya harga lahan industri, tentunya tidak menguntungkan bagi perusahaan. Di lain sisi, Upah Minimum Kabupaten (UMK) Bekasi cukup tinggi mencapaiRp1.470.000 pada 2012 dan kemudian meningkat menjadi Rp2.002.000 pada 2013. Besarnya harga lahan industri dan upah buruh menyebabkan tingkat efisiensi di Kabupaten Bekasi menjadi tidak kompetitif, yaitu 39,06%. Tingkat efisiensi ini jauh berada di bawah beberapa kabupaten atau kota lain di Jawa Barat, seperti Kota Sukabumi, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Karawang, dan Kabupaten Bogor. Walaupun demikian, Kabupaten Bekasi masih menjadi pilihan lokasi yang cukup diminati oleh perusahaan. Pada semester pertama tahun 2012 dari sekitar 180,21 ha lahan industri yang terjual di Indonesia, sekitar 27,27% terjual di Kabupaten Bekasi. Ini mengindikasikan bahwa minat perusahaan untuk melakukan aglomerasi di Kabupaten Bekasi masih tinggi, terlepas dari kelemahan yang ada. 2. Teori Aglomerasi Ekonomi Menurut Marshall, terdapat tiga faktor yang menyebabkan perusahaan melakukan aglomerasi. Pertama, limpahan pengetahuan (knowledge spillovers), yaitu kondisi dimana karyawan perusahaan secara informal dapat bertukar informasi mengenai produk baru, teknologi, atau tren dari pasar. Kedua, lokal input yang tidak diperdagangkan (non-traded local input), yaitu kemungkinan berbagi suatu input khusus yang didapatkan secara efisien jika perusahaan berkelompok. Ketiga, tempat bertemunya tenaga kerja terdidik (local skilled labour pool). Dengan perusahaan mengelompok, maka perusahaan dapat mengurangi biaya perolehan tenaga kerja. Kemudian, aglomerasi dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis. Pertama, Internal returns to scale, yaitu suatu kondisi dimana suatu perusahaan mencapai skala ekonomiannya karena ukurannya yang besar. Kedua, economies of localization, yaitu kondisi dimana sekelompok perusahaan dalam sektor industri yang sama berkumpul di suatu lokasi. Ketiga, economies of localization, yaitu ketika sekelompok perusahaan dari sektor industri yang berbeda berkumpul menjadi satu. Namun, perbedaan dalam pengklasifikasiian aglomerasi ini tergantung pada definisi batas wilayah dan sektor dari perusahaan tersebut. 3. Aglomerasi Industri di Kabupaten Bekasi 3.1 Klasifikasi Aglomerasi Industri Pengolahan di Kabupaten Bekasi Berdasarkan analisa penulis, aglomerasi di Kabupaten Bekasi dapat di klasifikasikan menjadi dua. Klasifikasi ini berdasarkan banyaknya jumlah perusahaan yang berlokasi di Kabupaten Bekasi. Pertama, berdasarkan klasifikasi economies of localization. Di lihat dari Statistik Industri Besar dan Sedang Jawa Barat 2010, dari 23 kelompok industri, 12 kelompok industri diantaranya teraglomerasi (berdasarkan klasifikasi economies of localization) di Kabupaten Bekasi. Kedua belas kelompok industri tersebut adalah yaitu : 1. Kelompok industri kertas dan barang dari kertas (19,8% dari total keseluruhan Jawa Barat) 2. Kelompok industri produk dari batu bara dan pengilangan minyak bumi (35,7% dari total keseluruhan Jawa Barat) 3. Kelompok industri kimia dan barang dari bahan kimia (33,8% dari total keseluruhan Jawa Barat) 4. Kelompok industri farmasi, produk obat kimia, dan obat tradisional (27,7% total keseluruhan Jawa Barat) 5. Kelompok industri karet, barang dari karet, dan plastik (24,13% dari total keseluruhan Jawa Barat) 6. Kelompok industri logam dasar (42% dari total keseluruhan Jawa Barat) 7. Kelompok industri barang logam, bukan mesin dan peralatannya (33% dari total keseluruhan Jawa Barat) 8. Kelompok industri komputer, barang elektronik, dan optik (64% dari total keseluruhan Jawa Barat) 9. Kelompok industri peralatan listrik (49,1% dari total keseluruhan Jawa Barat) 10. Kelompok industri mesin dan perlengkapannya (43,7% dari total keseluruhan Jawa Barat) 11. Kelompok Industri kendaraan bermotor, trailer, dan semi trailer (45% dari total keseluruhan Jawa Barat) 12. Kelompok industri alat angkutan lainnya (49,4% dari total keseluruhan Jawa Barat) Tingkat aglomerasi berdasarkan klasifikasi economies of localization di Kabupaten Bekasi dapat dikatakan sangat tinggi, jika dibandingkan dengan aglomerasi industri di kabupaten atau kota lain di Jawa Barat. Di Kota Bandung hanya terjadi aglomerasi tiga kelompok industri, Kabupaten Bnadung dan Kabupaten Cirebon dua kelompok industri. Sedangkan, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bogor, Kabupaten Majalengka, dan Kota Cirebon masing-masing hanya satu kelompok industri. Jika analisa lebih lanjut, maka terdapat 5 kelompok industri besar dan menengah dengan persentase aglomerasi tertinggi di Kabupaten Bekasi dari total kelompok industri sejenis di Jawa Barat, yaitu kelompok industri komputer, barang elektronik, dan optik; kelompok industri alat angkut lainnya; kelompok industri peralatan listrik; kelompok industri kendaraan bermotor, trailer, dan semi trailer; dan kelompok industri mesin dan perlengkapannya. Kedua, klasifikasi berdasarkan economies of urbanization (aglomerasi lintas sektor industri). Secara keseluruhan, 13,3% perusahaan industri besar dan menengah di Jawa Barat teraglomerasi di Kabupaten Bekasi. Nilai persentase aglomerasi ini sedikit di bawah Kabupaten Bandung yang menduduki posisi pertama, yaitu 14,3%. Di peringkat ketiga terdapat Kabupaten Bandung dengan persentase aglomerasi 11,2% dan peringkat keempat Kabupaten Bogor dengan persentase aglomerasi 10,74%. 3.2 Alasan Terjadinya Aglomerasi Industri Pengolahan di Kabupaten Bekasi Berdasarkan analisa penulis, terdapat dua faktor utama yang menyebabkan Kabupaten Bekasi menjadi tempat aglomerasi industri di Jawa Barat. 1) Letak Geografis dan Kondisi Infrastruktur Kabupaten Bekasi mempunyai letak yang sangat strategis, yaitu berbatasan langsung dengan ibukota negara, Jakarta. Jakarta berperan sebagai pasar sekaligus tempat pendistribusian produk hasil industri Kabupaten Bekasi. Letak Bekasi yang berbatasan langsung dengan Jakarta, juga memudahkan Kabupaten Bekasi mengakses Pelabuhan Tanjung Priok, pelabuhan utama di Indonesia. Letak strategis Kabupaten Bekasi juga didukung oleh kondisi infrastruktur yang baik. Kondisi infrastruktur, terutama jalan di Kabupaten Bekasi cukup baik. Menurut BPS tahun 2008, sekitar 34,79% jalan di Bekasi berstatus baik, 39,57% berstatus sedang, dan hanya 25,64% berstatus rusak. Kawasan industri di Kabupaten Bekasi juga memiliki Cikarang Dry Port yang terintegrasi dengan Pelabuhan Tanjung Priok sehingga memudah arus distribusi barang antara kawasan industri dengan pelabuhan.Hal ini menyebabkan biaya transportasi di Kabupaten Bekasi terjangkau bagi perusahaan yang beroperasi di sana (sesuai dengan teori penyebab aglomerasi : non-traded local input). 2) Sumber Daya Manusia Menurut BPS tahun 2011, terdapat 403.826 jiwa atau 37,56% penduduk Kabupaten Bekasi yang bekerja pada sektor pengolahan. Angka ini merupakan yang tertinggi kedua di Jawa Barat setelah Kabupaten Bandung. Jika dilihat dari tingkat pendidikannya, sekitar 32,4% atau 348.327 jiwa pekerja di Kabupaten Bekasi usia 15 tahun ke atas merupakan lulusan dari Sekolah Menengah Atas dan sekitar 8,6% merupakan lulusan diploma. Hal ini mengindikasikan bahwa tenaga kerja di Kabupaten Bekasi sudah cukup terdidik (sesuai dengan teori penyebab aglomerasi : local skilled labor pool). 4. Kesimpulan Kabupaten Bekasi merupakan salah tempat terjadinya aglomerasi industri di Provinsi Jawa Barat. Secara economies of localization, terdapat 12 kelompok industri di Jawa Barat yang teraglomerasi di Kabupaten Bekasi. Sedangkan, secara economies of urbanization, terdapat 13,3% industri besar dan menengah di Jawa Barat yang teraglomerasi di Kabupaten Bekasi. Walaupun, harga tanah industri yang sangat mahal, upah buruh yang cukup tinggi, dan tingkat efisiensi yang rendah, minat perusahaan untuk beraglomerasi di Kabupaten Bekasi masih cukup tinggi. Hal ini dikarenakan oleh, yaitu letak geografis yang strategis dan kondisi infrastruktur di Kabupaten Bekasi yang cukup baik serta cukup tersedianya tenaga kerja yang terdidik. Sumber Refrensi : Badan Pusat Statistik. 2012. Statistik Industri Besar dan Sedang Jawa Barat 2010 Buku 2. Bandung : Badan Pusat Statistik __________________. 2012. Keadaan Angkatan Kerja di Provinsi Jawa Barat. Bandung : Badan Pusat Statistik Colliers International. 2012. Research and Forecast Report : Jakarta Real Estate. http://www.colliers.com/en-gb/indonesia/~/media/files/apac/indonesia/pdf/colliersmarketreport1q2012.ashx (diakses 28 Februari 2013) McCaann, Philip. 2009. Urban and Regional Economics. New York : Oxford University Press

ANALISIS MORTALITAS DI INDONESIA

ANALISIS MORTALITAS DI INDONESIA Mortalitas adalah kematian yang terjadi pada anggota penduduk. Dalam tugas ini, penulis menggunakan angka kematian balita dan angka kematian ibu sebagai ukuran untuk mengetahui tinggi dan rendahnya tingkat kematian di Indonesia. Penulis menggunakan kedua ukuran tersebut dengan mempertimbangkan bahwa kedua ukuran itu digunakan dalam indikator Millenium Development Goals (MDGs). Angka kematian balita (AKBA) adalah jumlah kematian anak usia di bawah lima tahun selama satu tahun per 1.000 kelahiran hidup. AKBA di Indonesia terus menunjukkan penurunan secara signifikan. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 1991AKBA di Indonesia mencapai angka 97 per 1.000. Ini berarti probabilita meninggal anak usia di bawah lima tahun di Indonesia pada tahun 1991 adalah 97 dari 1.000 kelahiran hidup. Kemudian AKBA di Indonesia mengalami penurunan menjadi 81 (SDKI 1994), 58 (SDKI 1997), 46 (SDKI 2002/2003), dan 44 (SDKI 2007). Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2012, mayoritas kematian balita di Indonesia disebabkan oleh kelahiran prematur 25 persen, pneumonia 14 persen, dan kondisi dimana bayi kekurangan oksigen sebelum, selama, atau setelah kelahiran (birth asphyxia) 11 persen. Berdasarkan Profil Data Kesehatan Indonesia yang dipublikasikan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes), penulis berpendapat nilai AKBA di Indonesia cukup tinggi jika dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Pada tahun 2009 AKBA di Indonesia mencapai 39, sedangkan AKBA di Filipina mencapai 33, Vietnam mencapai 24, Thailand mencapai 13, dan Malaysia mencapai 6. Pencapaian Indonesia hanya lebih baik jika dibandingkan dengan Laos (59), Kamboja (88), dan Timor Leste (56). Besarnya AKBA di Indonesia menunjukkan bahwa masih buruknya kualitas lingkungan tempat di mana balita tinggal, sebab balita, terutama bayi, sangat rentan terserang oleh penyakit. Angka kematian ibu (AKI) adalah jumlah kematian perempuan ketika hamil sampai 42 hari setelah persalinan. AKI di Indonesia terus menunjukkan penurunan secara lambat. Berdasarkan SDKI 1991 AKI di Indonesia mencapai 390 per 100.000 kelahiran hidup. Hal ini berarti di Indonesia terdapat 390 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1991. Kemudian, AKI terus mengalami penurunan menjadi 334 (SDKI 1994), 307 (SDKI 2002/2003), dan 228 (SDKI 2007). Menurut Kemenkes mayoritas kematian ibu di Indonesia disebabkan oleh pendarahan 28 persen, eklamsia (kondisi kejang yang disebabkan oleh hipertensi) 24 persen, dan infeksi 11 persen. Berdasarkan Profil Data Kesehatan Indonesia yang dipublikasi oleh Kemenkes, penulis berpendapat nilai AKI di Indonesia sangat tinggi jika dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya. Pada tahun 2008 AKI di Indonesia mencapai 240 (lebih tinggi jika dibandingkan data dari SDKI 2007), sedangkan AKI di Filipina mencapai 94, Vietnam mencapai 56, Thailand 48, dan Malaysia mencapai 31. Pencapaian Indonesia hanya lebih baik jika dibandingkan dengan Laos (580), Kamboja (290), dan Timor Leste (370). Besarnya AKI di Indonesia menunjukkan masih rendahnya perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap hak-hak perempuan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik. Walaupun AKBA dan AKI Indonesia masih rendah jika dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara, tetapi pencapaian Indonesia ini telah lebih baik jika dibandingkan dengan beberapa periode sebelumnya. Menurut Laporan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia tahun 2010, pencapaian tersebut tak terlepas dari beberapa faktor. Untuk kesehatan balita, keberhasilan program imunisasi menjadi salah satu penyebab membaiknya pencapaian tingkat AKBA saat ini. Cakupan program imunisasi lengkap terus meningkat. Selama periode 2002-2005, cakupan beberapa program imunisasi utama, yaitu BCG, DPT3, dan hepatitis, masing-masing telah meningkat mencapai 82 persen, 88 persen, dan 72 persen. Sementara itu, cakupan nasional imunisasi campak pada tahun 2007 mencapai 67 persen. Penulis berpendapat bahwa meningkatnya cakupan program imunisasi ini, telah meningkatkan daya imunitas balita terhadap serangan penyakit. Untuk kesehatan ibu, meningkatnya pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih menjadi salah satu penyebab membaiknya pencapaian tingkat AKI saat ini. Persentase persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih meningkat dari 66,7 persen pada tahun 2002 menjadi 77,34 persen pada tahun 2009, serta menjadi 82,3 persen pada tahun 2010. Selain itu, pada tahun 2007 93 persen ibu hamil telah memperoleh pelayanan antenatal dari tenaga kesehatan profesional selama masa kehamilan. Penulis berpendapat bahwa meningkatnya pertolongan persalinan dan pelayanan antenatal ini telah menurunkan risiko kematian ibu pada saat melahirkan. Namun, komitmen yang lebih tinggi dari pemerintah sangat dibutuhkan, terutama untuk menurunkan tingkat AKI. Menurut penulis komitmen pemerintah itu belum terlihat, jika dilihat dari sisi anggaran kesehatan pemerintah pusat tahun 2013 yang belum mencapai angka 5 persen. Selain itu, Indonesia juga masih menghadapi permasalahan disparitas pelayanan kesehatan antar daerah yang cukup tinggi. Hal ini terlihat dari data Tim Nasional Percepatan Pemberantasan Kemiskinan (TNP2K). Secara ekstrem, penulis dapat membandingkan jarak rata-rata menuju rumah sakit terdekat di Jakarta Pusat (1,94 km) atau rasio bidan per 100.000 penduduk di Jakarta Pusat (11,80) dengan Kabupaten Asmat, Papua masing-masing mencapai 96,60 km dan rasio 1,42. Lebih memprihatinkan lagi, pada tahun 2011 menurut Kementerian Kesehatan dari 14.773.538 rumah tangga yang diobservasi hanya 53,89 persen diantaranya yang berperilaku bersih dan sehat. Oleh karena itu, dibutuhkan sinergi antara pemerintah dan masyarakat untuk menurunkan AKBA dan AKI di Indonesia. REFRENSI Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. 2011. Laporan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia 2010. Jakarta : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Kementerian Kesehatan Indonesia. 2012. Profil Data Kesehatan Indonesia Tahun 2011. Jakarta : Kementerian Kesehatan Tim Nasional Percepatan Penanggulan Kemiskinan. 2010. Indikator Kesejahteraan Rakyat : Buku 3 Kesehatan. Jakarta : Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan World Health Organization. 2012. World Health Statistic 2012. France : World Health Organization

KARAKTERISTIK PENDUDUK INDONESIA

KARAKTERISTIK PENDUDUK INDONESIA Penduduk dapat dikelompokkan menurut karakteristik tertentu. Pengelompokkan penduduk ini dapat berdasarkan karakteristik demografi (umur dan jenis kelamin), sosial (tingkat pendidikan dan status perkawinan), ekonomi (lapangan usaha serta status dan jenis pekerjaan), dan geografis (tempat tinggal). Dalam tugas ini, penulis akan mendeskripsikan pengelompokkan penduduk di Indonesia menurut karakteristik demografi, sosial, dan geografis berdasarkan Sensus Penduduk (SP) 2000 dan 2010. Berdasarkan hasil SP 2000 menurut karakteristik umur, penduduk Indonesia didominasi oleh kelompok usia produktif (penduduk usia 15-59 tahun), yaitu sekitar 65,03 persen. Disusul oleh kelompok usia muda (0-14 tahun) sebesar 30,43 persen dan kelompok usia tua (diatas 65 tahun) sebesar 4,54 persen. Pada hasil SP 2010, kondisi tersebut tidak berubah, tetapi proporsi penduduk kelompok usia muda mengalami penurunan. Sedangkan, proporsi penduduk kelompok usia produktif dan tua mengalami peningkatan. Kemudian, hasil SP 2000 juga menunjukkan umur median penduduk Indonesia adalah 23,78 tahun dan mengalami peningkatan pada SP 2010 menjadi 27,2 tahun. Dengan demikian, penduduk Indonesia dapat dikategorikan sebagai penduduk intermediate, yaitu transisi dari penduduk muda ke penduduk tua. Peningkatan proporsi penduduk usia produktif di Indonesia sebenarnya akan menguntungkan secara ekonomi. Sebab penurunan proporsi kelompok penduduk usia muda akan mengurangi besarnya investasi untuk pemenuhan kebutuhannya, sehingga sumber daya dapat dialihkan kegunaannya untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan keluarga. Namun, kondisi ini hanya bisa dimanfaatkan jika diiringi dengan peningkatan jumlah lapangan kerja, peningkatan peran perempuan dalam aktivitas ekonomi, peningkatan tabungan masyarakat, dan perbaikan kualitas sumber daya manusia. Kemudian, berdasarkan hasil SP 2000 menurut karakteristik jenis kelamin, proporsi penduduk laki-laki lebih banyak dari pada penduduk perempuan. Hal ini ditunjukan dengan rasio jenis kelamin sebesar 100,6. Lalu, rasio ini menurun menjadi 101 menurut hasil SP 2010. Ini menunjukkan proporsi penduduk laki-laki dan perempuan menjadi hampir seimbang. Berdasarkan hasil SP 2000 menurut karakteristik status perkawinan, Indonesia didominasi oleh penduduk berusia 10 tahun keatas dengan status kawin. Selanjutnya, proporsi status penduduk laki-laki belum kawin lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan. Biasanya hal ini terjadi karena laki-laki ingin meneruskan pendidikan ke tingkatan lebih lanjut atau baru mulai bekerja sehingga menunda perkawinan. Ini terjadi karena laki-laki berperan sebagai kepala keluarga yang berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehingga sebelum memasuki jenjang perkawinan mereka harus terlebih dahulu mapan secara ekonomi. Kemudian, proporsi penduduk dengan status cerai hidup dan cerai mati lebih tinggi terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Hal ini mungkin disebabkan karena laki-laki yang bercerai atau ditinggal mati oleh istrinya lebih cepat melakukan perkawinan kembali dibandingkan perempuan. Lalu, proporsi penduduk dengan status cerai hidup lebih didominasi oleh perempuan. Ini menunjukkan sejalan dengan peningkatan kesadaran akan hak-haknya, perempuan lebih berani untuk menggugat cerai suaminya. Hasil yang tidak jauh berbeda juga ditunjukkan oleh SP 2010. Berdasarkan hasil SP 2000 menurut karakteristik tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan, Indonesia didominasi oleh penduduk usia lima tahun ke atas yang tidak/ belum tamat SD (35,4 persen), disusul oleh penduduk dengan tingkat pendidikan SD (34,22 persen). Angka penduduk yang tidak/belum tamat SD bersumber dari penduduk di pedesaan 69,24 persen dan juga berasal dari penduduk perempuan (53%). Sedangkan angka penduduk dengan tingkat pendidikan SD bersumber dari penduduk di pedesaan 64,42 persen dan juga berasal dari penduduk perempuan 51 persen. Ini menunjukkan bahwa kualitas sumber daya manusia di Indonesia masih sangat rendah. Selain itu, pemerintah wajib memberikan perhatian khusus kepada tingkat pendidikan penduduk di pedesaan dan tingkat pendidikan perempuan. Hasil SP 2010 menunjukkan terjadi penurunan proporsi penduduk tidak/belum tamat SD, sehingga penduduk Indonesia didominasi oleh penduduk dengan tingkat pendidikan SD. Selain itu, terjadi peningkatan cukup besar di jenjang pendidikan lainnya. Ini menunjukkan terjadinya perbaikan kualitas sumber daya manusia di Indonesia menuju arah yang lebih baik. Berdasarkan hasil SP 2000 menurut karakteristik persebaran penduduk, 58,83 persen penduduk Indonesia tinggal di Pulau Jawa yang hanya 6,75 persen dari luas wilayah Indonesia. Kemudian disusul oleh Pulau Sumatera sebesar 21 persen, Sulawesi 7,25 persen, Kalimantan 5,49 persen, Nusa Tenggara 5,39 persen, serta Maluku dan Papua 2,04 persen. Pada SP 2010 persebaran penduduk Indonesia tidak banyak mengalami perubahan. Ini menunjukkan terjadi konsentrasi penduduk dan aktivitas ekonomi yang sangat tinggi di Pulau Jawa. Hal ini mengkhawatirkan, jika mengingat bahwa daya dukung lingkungan (ketersediaan lahan dan air) di Pulau Jawa yang semakin terbatas. Kemudian, terjadi kenaikan jumlah penduduk Indonesia yang tinggal di perkotaan dari 42 persen pada SP 2000 menjadi 49,1 persen pada SP 2010. Ini menunjukkan terjadinya proses urbanisasi, baik dalam arti perpindahan penduduk dari desa ke kota dan atau perubahan status pedesaan menjadi perkotaan. Pengelompokkan penduduk berdasarkan karakteristik tertentu sangat berguna untuk berbagai tujuan. Pertama, untuk mengetahui kondisi sumber daya manusia. Kedua, untuk mengembangkan suatu kebijakan. Ketiga, untuk menyediakan prasarana dan sarana. Keempat, untuk membandingkan keadaan suatu penduduk dengan penduduk lainnya. Kelima, untuk mengetahui proses demografi yang terjadi. Refrensi : Badan Pusat Statistik. 2001. Penduduk Indonesia Hasil Sensus Penduduk Tahun 2000 Seri L2.2. Jakarta : Badan Pusat Statistik Tim Penulis Lembaga Demografi FEUI. 2010. Dasar-Dasar Demografi. Jakarta : Salemba Empat http://sp2010.bps.go.id/

ANALISIS FERTILITAS DI INDONESIA

ANALISIS FERTILITAS DI INDONESIA Fertilitas adalah komponen pertumbuhan penduduk yang bersifat menambah jumlah penduduk. Tahun 1950-an merupakan titik awal tingginya fertilitas di Indonesia yang sebelumnya sempat menurun akibat gejolak Perang Dunia II dan masa perang kemerdekaan Angka fertilitas tersebut terus meningkat dan mencapai puncaknya pada tahun 1955 . Fertilitas yang tinggi ini menghasilkan kelahiran yang menghasilkan kelahiran yang cukup besar. Pada saat yang sama teknologi kesehatan terutama diketemukannya obat-obatan antiboiotik berhasil dimanfaatkan oleh Indonesia, dan tingkat kematian mulai menurun . Angka fertilitas yang meningkat dan menurunnya angka kematian ini menghasilkan pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi di Indonesia pada saat itu. Pada tahun 1967 para pemimpin dunia, termasuk Presiden Soeharto, menandatangani suatu deklarasi mengenai kependudukan. Dalam deklarasi tersebut dinyatakan bahwa laju pertumbuhan penduduk yang tinggi merupakan masalah yang harus ditanggulangi kareka akan mengecilkan arti pembangunan dalam bidang ekonomi . Sebagai implementasi dari deklarasi tersebut, Presiden Soeharto memperkenalkan sebuah program nasional keluarga berencana (KB) pada tahun 1968 dan mendirikan Badan Koordinator Keluarga Berencana Nasional pada tahun 1970 . Grafik dalam lampiran menunjukkan bahwa perkembangan Total Fertility Rate (TFR) di Indonesia.. Hasil Sensus Penduduk (SP) 1971 mencatat bahwa TFR di Indonesia masih sangat tinggi, yaitu 5,605 anak per wanita usia reproduksi. Sepuluh tahun kemudian (Hasil SP 1980), angka TFR terus menurun, tetapi penurunannya masih relatif kecil sekitar 1,8% per tahunnya. Penurunan yang lebih cepat dimulai pada periode sepuluh tahun kedua (Hasil SP 1990) dimana secara rata-rata setiap tahunnya turun 2,9%. Kondisi ini tetap bertahan, bahkan penurunannya lebih cepat, yaitu sekitar 3,3% (Hasil SUPAS 1995 dan Sensus 2000). Kemudiaan TFR menurun secara lambat hanya sekitar 0,7% per tahun (Hasil SUPAS 2005), bahkan pada hasil SP 2010 TFR mengalami peningkatan. Penurunan TFR yang drastis dari 5,605 anak per wanita usia produktif pada tahun 1971 menjadi 2,34 anak per wanita usia produktif pada tahun 2000, tidak lepas dari intervensi pemerintah melalui program KB. Menurut Hayes, berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia, angka prevalensi KB pada wanita yang sudah menikah usia 15-49 tahun telah mencapai 50%. Keberhasilan ini bahkan diakui sebagai salah satu yang paling sukses di dunia. Terdapat empat faktor yang menyebabkan suksesnya program KB ini . Pertama, menggunakan partisipasi akar rumput untuk mencapai daerah pedesaan. Pemerintah menurunkan pekerja lapangan sebanyak 40.000-100.000 sukarelawan untuk membawa masyarakat ke tempat pelayanan. Kedua, pemerintah mengoptimalkan semua jalur dan saluran komunikasi dalam mengkampanyekan KB yang dirancang untuk membawa perubahan norma sosial di masyarakat. Ketiga, pemerintah juga menjalin kerjasama dengan pihak swasta. Keempat, sejak tahun 1990-an Program KB diarahkan ke kualitas pelayanan sehingga menjadi lebih responsif terhadap kebutuhan klien. Kemudian, lambatnya penurunan TFR pada tahun 2005 lebih disebabkan oleh angka fertilitas sudah memasuki tingkatan yang cukup rendah sehingga kemampuan intervensi program dalam menurunkan lebih lanjut akan semakin berat. Sedangkan, kenaikan TFR pada SP 2010 disebabkan oleh sehubungan dengan penerapan otonomi daerah, pemerintah pusat belum menetapkan kebijakan kelembagaan yang jelas dan tegas terkait penyerahan program KB ke pemerintah daerah, termasuk ketidaksiapan sumber daya manusia di daerah, dukungan anggaran, sarana dan prasaran, serta belum selarasnya komitmen kepala daerah dengan arah dan kebijakan pemerintah pusat . LAMPIRAN Sumber : SP 1971-SUPAS 2005 : Badan Pusat Statistik (2006), SP 2010 : Badan Pusat Statistik (2011)

PELAKSANAAN SENSUS PENDUDUK 2010


PELAKSANAAN SENSUS PENDUDUK 2010

            Sensus Penduduk 2010 merupakan sensus penduduk yang keenam kalinya diselenggarakan oleh Indonesia sejak periode kemerdekaan. Landasan hukum dari penyelenggaraan Sensus Penduduk 2010 adalah Undang-Undang Nomor 16 tahun 1997 tentang Statistik, Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 1999 tentang Penyelanggaraan Statistik, dan Peraturan Presiden Nomor 86 tahun 2007 tentang Struktur Organisasi Badan Pusat Statistik (BPS). Terdapat empat tujuan dari pelaksanaan Sensus Penduduk 2010, yaitu mengumpulkan dan menyajikan data dasar kependudukan sampai wilayah administrasi terkecil, membentuk Kerangka Sampel Induk (KSI) untuk kepentingan survei-survei lain yang dilakukan dengan pendekatan rumah tangga, memperkirakan berbagai parameter kependudukan sampai wilayah administrasi tertentu, mengumpulkan informasi kependudukan yang dapat dimanfaatkan untuk penyusunan basis data kependudukan[1].
            Pelaksanaan Sensus Penduduk 2010, terbagi dalam tiga tahapan utama, yaitu sensus resmi secara nasional dari 1-31 Mei 2010, penyisiran kembali oleh petugas sensus dari 31 Mei-15 Juni 2010, dan 15 Juni-30 Juni 2010 penindaklanjutan pengaduan masyarakat yang merasa belum disensus oleh petugas[2]. Kegiatan Sensus Penduduk 2010 mencakup pendaftaran bangunan dan rumah tangga; pencacahan individu anggota rumah tangga; pengumpulan data penduduk yang bertempat tinggal tidak tetap, tunawisma, dan anak buah kapal berbendera Indonesia; dan survei evaluasi pasca sensus. Responden dari Sensus Penduduk 2010 adalah seluruh warga negara Indonesia (WNI) maupun warga negara asing (WNA) yang tinggal dalam wilayah teritorial Indonesia, termasuk wilayah teritorial Republik Indonesia di luar negeri, baik yang bertempat tinggal tetap maupun yang tidak tetap. Termasuk anggota korps diplomatik Indonesia beserta keluaganya yang berada di luar negeri dan tidak termasuk anggota korps diplomatik WNA beserta keluarganya yang berada di Indonesia. Dalam pelaksanaan Sensus Penduduk 2010 BPS menerjunkan sekitar 700.000 petugas sensus lapangan untuk melakukan pencatatan di 33 provinsi, 497 kabupaten/kota, 6.651 kecamatan, dan 77.126 desa/kelurahan di Indonesia. Biaya yang dibutuhkan sebesar Rp3,3 triliun yang diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)[3]. Sekitar 60 persen dari anggaran tersebut digunakan untuk pelatihan dan pembayaran petugas sensus[4]. Biaya sensus ini tergolong terendah di dunia[5].
            Dalam Sensus Penduduk 2010 terdapat 43 variabel yang terdiri 12 halaman[6]. Data yang dikumpulkan antara lain nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, agama, kewarganegaraan, pekerjaan, dan tempat lahir. Selain itu, dalam sensus kali ini BPS menyertakan lima variabel baru yang sebelumnya tidak dimasukkan pada Sensus Penduduk 2000[7]. Kelima variabel itu adalah kematian ibu, disabilitas, kemampuan baca tulis, kemampuan berbahasa Indonesia, dan keterangan perumahan[8]. Oleh karena itu, data yang terhimpun dalam akan jauh lebih lengkap. Data tersebut sangat berguna sebagai bahan perencanaan, monitoring, dan evaluasi pembangunan.
            Data-data yang diperoleh dari Sensus Penduduk 2010 sangat bermanfaat bagi pembangunan dan merupakan rujukan utama data dasar kependudukan di Indonesia.  Namun, proses pengumpulan data dalam Sensus Penduduk 2010 banyak mengalami kendala. Pertama, kondisi geografis Indonesia yang beragam dimana sebagian merupakan lokasi terpencil dan sulit dijangkau sehingga membuat proses sensus menjadi sulit. Untuk kebutuhan tersebut petugas lapangan terkadang harus menyewa pesawat atau kapal untuk sampai di lokasi. Kedua, penolakan dari masyarakat untuk disensus. Hal ini terjadi pada masyarakat yang tinggal di apartemen, seperti di Jakarta[9]. Ketiga, kesibukan aktivitas masyarakat sehingga petugas sensus sulit menemui mereka di tempat tinggalnya[10] . Keempat, masih adanya petugas sensus yang kurang profesional dalam melaksanakan tugasnya sehingga data yang dihasilkan dikhawatirkan tidak akurat[11]. Diharapkan kedepannya kendala-kendala ini dapat diselesaikan dengan baik, mengingat pentingnya data yang diperoleh dari sensus penduduk.


[1] Badan Pusat Statistik. 2010. Katalog Metadata SP 2010 dan Pendukungnya. Jakarta: Badan Pusat Statistik
[2] El Hida, Ramdhania. 2010. BPS Finalisasi Kelengkapan Data Sensus 2010. http://finance.detik.com/read/2010/06/23/090829/1384420/4/bps-finalisasi-kelengkapan-data-sensus-2010 (diakses tanggal 24 Februari 2013)
[3] Kompas. 2010. 1 Mei Sensus Paling Ambisius. http://www.kompas.com/read/xml/2010/04/29/14531815/1.mei.sensus.paling.ambisius (diakses tanggal 24 Februari 2013)
[4] Safitri, Dewi. Sensus Penduduk 2010 Diluncurkan. http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2010/04/100430_indocensus.shtml (diakses tanggal 24 Februari 2013)
[5] Kompas. 2010. Biaya Sensus RI Paling Murah. http://www.kompas.com/read/xml/2010/04/30/07583153/biaya.sensus.ri.paling.murah (diakses tanggal 24 Februari 2013)
[6] Antara. 2010. Materi Pertanyaan Sensus Penduduk 2010. http://www.antarasulut.com/berita/13011/materi-pertanyaan-sensus-penduduk-2010 (diakses tanggal 24 Februari 2013)
[7] Kompas. 2010. Lima Variabel Baru Perkaya Sensus 2010. http://www.kompas.com/read/xml/2010/04/29/1634235/lima.variabel.baru.perkaya.sensus.2010 (diakses tangga; 24 Februari 2013)
[8] Dalam keterangan perumahan itu, yang dipertanyakan adalah fasilitas air minum, listrik, sanitasi, jenis lantai, dan akses komunikasi dengan telepon atau internet
[10] Antara. 2010. Petugas Kesulitan Sensus Warga Perumahan. http://www.antarasumbar.com/berita/nusantara/d/22/100278/petugas-kesulitan-sensus-warga-perumahan.html (diakses tanggal 24 Februari 2013)
[11] Suhendra. 2010. Kepala BPS Marah, Petugas Teledor Sensus Penduduk. http://finance.detik.com/read/2010/05/30/095823/1366067/4/kepala-bps-marah-petugas-teledor-sensus-penduduk (diakses tanggal 24 Februari 2013)

SITUASI KEPENDUDUKAN DAN KEBIJAKAN KEPENDUDUKAN DI INDONESIA



SITUASI KEPENDUDUKAN DAN KEBIJAKAN KEPENDUDUKAN DI INDONESIA

            Saat ini jumlah penduduk Indonesia berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) adalah sebanyak 237,6 juta  jiwa. Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan sensus sejak tahun 1961 sampai dengan 2000 terus meningkat walaupun jumlah peningkatannya menurun dari 23,72 pada periode tahun 1971-1980 menjadi 21,62% pada periode tahun 1980-1990. Adapun pada periode tahun 2000-2010 meningkat menjadi 15,17%. Dilihat dari distibusi penduduk, persebaran penduduk di Indonesia tidak merata karena 57,5 persen penduduk terkonsentrasi di Pulau Jawa. Sedangkan, kualitas sumber daya manusia masih rendah. Hal ini terlihat dari penduduk Indonesia usia 5 tahun didominasi oleh penduduk yang tamat SD/MI/sederajat sebesar 30,55 persen.
            Hasil Sensus Penduduk 2010 juga menunjukkan bahwa sebanyak 66.1 persen penduduk Indonesia yang berasal dari kelompok umur kerja (penduduk umur 15-64 tahun). Sedangkan, penduduk Indonesia berasal berasal dari kelompok umur muda (penduduk umur 0-14 tahun) hanya sebanyak 28.9% dan kelompok umur tua (penduduk umur 65 tahun atau lebih) sebanyak 5%. Kondisi seperti ini, dimana jumlah penduduk  kelompok umur kerja hampir dua kali lipat penduduk kelompok umur muda (bonus demografi), akan membuka the window of opportunity yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah untuk mensejahterakan penduduknya (Adioetomo : 2005). Namun, perlu diingat bahwa the window opportunity tersebut hanya akan terjadi apabila asumsi penurunan tingkat fertilitas sebesar 1,86 per wanita dan mortalitas bayi sebesar 18,9 per 1.000 kelahiran pada tahun 2030 dapat tercapai (Adioetomo : 2005). Untuk itu, kebijakan kependudukan dalam hal ini upaya pengendalian pertumbuhan penduduk menjadi sangat penting.
            Upaya pengendalian pertumbuhan penduduk dapat ditempuh utamanya melalui pengaturan fertilitas, mortalitas, dan pengarahan mobilitas penduduk (UU No. 52 Tahun 2009). Pengaturan fertilitas dilakukan melalui Program Keluarga Berencana (KB). KB dilaksanakan untuk membantu calon atau pasangan suami istri dalam mengambil keputusan tentang usia ideal perkawinan, usia ideal untuk melahirkan, jumlah ideal anak, jarak ideal kelahiran anak, dan penyuluhan kesehatan reproduksi. Pengaturan mortalitas diprioritaskan pada penurunan angka kematian ibu hamil, penurunan angka kematian ibu melahirkan, penurunan angka kematian pasca melahirkan, serta penurunan angka kematian bayi dan anak. Sedangkan, pengarahan mobilitas penduduk bertujuan untuk mecapai persebaran penduduk yang optimal, didasarkan pada keseimbangan antara jumlah penduduk dengan daya dukung alam dan lingkungan. Akan tetapi, upaya pengedalian pertumbuhan penduduk mengalami stagnansi pada periode tahun 2000-2010 (BPK : 2012). Hal ini disebabkan karena sehubungan dengan penerapan otonomi daerah, pemerintah pusat belum menetapkan kebijakan kelembagaan yang jelas dan tegas terkait penyerahan program, terutama KB ke pemerintah daerah. Jika hal ini tidak segera diatasi, dikhawatirkan Indonesia tidak dapat memanfaatkan kesempatan the window of opportunity yang hanya terjadi sekali saja  untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Refrensi :

Adioetomo, Sri Murtiningsih Setyo. 2005. Bonus Demografi : Menjelaskan Hubungan Antara      Pertumbuhan Penduduk dan Pertumbuhan Ekonomi. Jakarta : Fakultas Ekonomi UI
Badan Pemeriksa Keuangan. 2012. Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester II Tahun 2011.    Jakarta : Badan Pemeriksa Keuangan
Badan Pusat Statistik. 2012. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial Ekonomi    Indonesia Februari 2012. Jakarta : Badan Pusat Statistik
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga









           

Sabtu, 07 Juli 2012

DAFTAR KODAM, KOREM, DAN KODIM DI INDONESIA

DAFTAR KODAM, KOREM, DAN KODIM DI INDONESIA




 No.
Nama Kodam, Korem, atau Kodim
Pusat Kedudukan
1
Kodam Iskandar Muda
Banda Aceh

Korem 011 Lilawangsa
Kodim 0102 Pidie
Kodim 0103 Aceh Utara
Kodim 0104 Aceh Timur
Kodim 0106 Aceh Tengah
Kodim 0108 Aceh Tenggara
Kodim 0111 Bireuen
Kodim 0113 Gayo Lues
Lhokseumawe

Korem 012 Teuku Umar
Kodim 0101 Aceh Besar
Kodim 0105 Aceh Barat
Kodim 0107 Aceh Selatan
Kodim 0109 Aceh Singkil                                      
Kodim 0110 Aceh Barat Daya
Kodim 0112 Sabang
Kodim 0114 Aceh Jaya
Banda Aceh
2
Kodam I Bukit Barisan
Medan

Korem 022 Pantai Timur
Kodim 0202
Kodim 0203 Langkat
Kodim 0204 Deli Serdang
Kodim 0207 Simalungun
Kodim 0208 Asahan
Kodim 0209 Labuhan Batu
Pematang Siantar

Korem 023 Kawal Samudera
Kodim 0205 Tanah Karo
Kodim 0206 Dairi
Kodim 0210 Tapanuli Utara
Kodim 0211 Tapanuli Tengah
Kodim 0212 Tapanuli Selatan
Kodim 0213 Nias
Sibolga

Korem 031 Wirabima
Kodim 0301 Pekanbaru
Kodim 0302 Indragiri Hulu
Kodim 0303 Bengkalis
Kodim 0313 Kampar
Kodim 0314 Indragiri Hilir
Pekanbaru

Korem 032 Wirabraja
Kodim 0304 Agam
Kodim 0305 Pasaman
Kodim 0306 Limapuluh Kota
Kodim 0307 Tanah Datar
Kodim 0308 Padang Pariaman
Kodim 0309 Solok
Kodim 0310 Sawahlunto
Kodim 0311 Pesisir Selatan
Kodim 0312 Padang
Kodim 0319 Mentawai
Kodim 0320 Bukittinggi
Kodim 0321 Pasaman Barat
Padang

Korem 033Wira Pratama
Kodim 0315 Kepulauan Riau
Kodim 0316 Batam
Kodim 0317 Karimun
Kodim 0318 Natuna
Tanjung Pinang

Kodim 0201 BS Medan

3
Kodam II Sriwijaya
Palembang

Korem 041 Garuda Emas
Kodim 0407 Bengkulu
Kodim 0408 Bengkulu Selatan
Kodim 0409 Rejang Lebong
Kodim 0423 Bengkulu Utara
Kodim 0425 Seluma
Bengkulu

Korem 042 Garuda Putih
Kodim 0415 Batanghari
Kodim 0416 Bungo Tebo
Kodim 0417 Kerinci
Kodim 1419 Tanjung Jabung
Kodim 1420 Sarolangun Bangko
Jambi

Korem 043 Garuda Hitam
Kodim 0410 Bandar Lampung
Kodim 0411 Lampung Tengah
Kodim 0412 Lampung Utara
Kodim 0421 Lampung Selatan
Kodim 0422 Lampung Barat
Kodim 0424 Tanggamus
Kodim 0426 Tulang Bawang
Kodim 0427 Waykanan
Bandar Lampung

Korem 044 Garuda Dempo       
Kodim 0401 Musi Banyuasin
Kodim 0402 Ogan Komering Ilir
Kodim 0403 Ogan Komering Ulu
Kodim 0404 Muara Enim
Kodim 0405 Lahat
Kodim 0406 Musi Rawas
Kodim 0418 Palembang
Palembang

Korem 045 Garuda Jaya
Kodim 0413 Bangka
Kodim 0414 Belitung
Pangkal Pinang
4
Kodam Jaya
Jakarta

Korem 051 Wijayakarta
Kodim 0504 Jakarta Selatan
Kodim 0505 Jakarta Timur
Kodim 0507 Bekasi
Kodim 0508 Depok
Bekasi

Korem 052 Wijayakrama
Kodim 0502 Jakarta Utara
Kodim 0503 Jakarta Barat
Kodim 0504 Tangerang
Tangerang

Kodim 0501 Jakarta Pusat

5
Kodam III Siliwangi
Bandung

Korem 061 Suryakencana
Kodim 0606 Kota Bogor
Kodim 0607 Sukabumi
Kodim 0608 Cianjur
Kodim 0621 Kabupaten Bogor
Bogor

Korem 062 Tarumanegara
Kodim 0609 Kabupaten Bandung
Kodim 0610 Sumedang
Kodim 0611 Garut
Kodim 0612 Tasikmalaya
Kodim 0613 Ciamis
Garut

Korem 063 Sunan Gunung Jati
Kodim 0604 Karawang
Kodim 0605 Subang
Kodim 0614 Kota Cirebon
Kodim 0615 Kuningan
Kodim 0616 Indramayu
Kodim 0617 Majalengka
Kodim 0619 Purwakarta
Kodim 0620 Kabupaten Cirebon
Cirebon

Korem 064 Maulana Yusuf
Kodim 0601 Pandeglang
Kodim 0602 Serang
Kodim 0603 Lebak
Kodim 0623 Cilegon v
Serang

Kodim 0618 BS Kota Bandung

6
Kodam IV Diponegoro
Semarang

Korem 071 Wijayakusuma     
Kodim 0701 Banyumas
Kodim 0702 Purbalingga
Kodim 0703 Cilacap
Kodim 0704 Banjarnegara
Kodim 0710 Pekalongan
Kodim 0711 Pemalang
Kodim 0712 Tegal
Kodim 0713 Brebes
Kodim 0736 Batang
Purwokerto

Korem 072 Pamungkas                                        
Kodim 0705 Magelang
Kodim 0706 Temanggung
Kodim 0707 Wonosobo
Kodim 0708 Purworejo
Kodim 0709 Kebumen
Kodim 0729 Bantul
Kodim 0730 Gunung Kidul
Kodim 0731 Kulon Progo
Kodim 0732 Sleman
Kodim 0734 Yogyakarta
Yogyakarta

Korem 073 Makutarama
Kodim 0714 Salatiga
Kodim 0715 Kendal
Kodim 0716 Demak
Kodim 0717 Purwodadi
Kodim 0718 Pati
Kodim 0719 Jepara
Kodim 0720 Rembang
Kodim 0721 Blora
Kodim 0722 Kudus
Salatiga

Korem 074 Warastratama
Kodim 0723 Klaten
Kodim 0724 Boyolali
Kodim 0725 Sragen
Kodim 0726 Sukoharjo
Kodim 0727 Karang Anyar
Kodim 0728 Wonogiri
Kodim 0735 Surakarta
Surakarta

Kodim 0733 BS Kota Semarang

7
Kodam V Brawijaya
Surabaya

Korem 081 Dhirot Saha Jaya
Kodim 0801 Pacitan
Kodim 0802 Ponorogo
Kodim 0803 Madiun
Kodim 0805 Ngawi
Kodim 0806 Trenggalek
Kodim 0807 Tulungagung
Kodim 0808 Blitar
Kodim 0810 Nganjuk
Madiun

Korem 082 Citra Panca Yudha Jaya
Kodim 0809 Kediri
Kodim 0811 Tuban
Kodim 0812 Lamongan
Kodim 0813 Bojonegoro
Kodim 0814 Jombang
Kodim 0815 Mojokerto
Mojokerto

Korem 083 Bala Dika Jaya
Kodim 0818 Kabupaten Malang
Kodim 0819 Pasuruan
Kodim 0820 Probolinggo
Kodim 0821 Lumajang
Kodim 0822 Bondowoso
Kodim 0823 Situbondo
Kodim 0824 Jember
Kodim 0825 Banyuwangi
Kodim 0833 Kota Malang
Malang

Korem 084 Bhaskara Jaya
Kodim 0816 Sidoarjo
Kodim 0817 Gresik
Kodim 0826 Pamekasan
Kodim 0827 Sumenep

Kodim 08x1428 Sampang

Kodim 0829 Bangkalan
Kodim 0830 Surabaya Utara
Kodim 0831 Surabaya Timur
Kodim 0832 Surabaya Selatan
Surabaya
8
Kodam VI Mulawarman
Balikpapan

Korem 091 Aji Surya Natakesuma
Kodim 0901 Samarinda
Kodim 0902 Tanjung Redeb
Kodim 0903 Tanjung Selor
Kodim 0904 Tanah Grogot
Kodim 0905 Balikpapan
Kodim 0906 Tenggarong
Kodim 0907 Tarakazn
Kodim 0908 Bontang
Kodim 0909 Sangatta
Kodim 0910 Malinau
Kodim 0911 Nunukan
Samarinda

Korem 101 Antasari
Kodim 1001 Amuntai
Kodim 1002 Barabai
Kodim 1003 Kandangan
Kodim 1004 Kotabaru
Kodim 1005 Marabahan
Kodim 1006 Martapura
Kodim 1007 Banjarmasin
Kodim 1008 Tanjung
Kodim 1009 Pelaihari
Kodim 1010 Rantau
Banjarmasin
9
Kodam VII Wirabuana
Makassar

Korem 131 Santiago
Kodim 1301 Sangihe Talaud
Kodim 1302 Minahasa
Kodim 1303 Bolaang Mongondow
Kodim 1304 Gorontalo
Kodim 1309 Manado
Kodim 1310 Bitung
Manado

Korem 132 Tadulako       
Kodim 1305 Buol Toli-Toli
Kodim 1306 Donggala
Kodim 1307 Poso
Kodim 1308 Luwuk Banggai
Palu

Korem 141 Toddopuli
Kodim 1406 Wajo
Kodim 1407 Bone
Kodim 1409 Gowa
Kodim 1410 Bantaeng
Kodim 1411 Bulukumba
Kodim 1415 Selayar
Kodim 1422 Maros
Kodim 1423 Soppeng
Kodim 1424 Sinjai
Kodim 1425 Jeneponto
Kodim 1426 Takalar
Watampone

Korem 142 Taroada Tarogau
Kodim 1401 Majene
Kodim 1402 Polmas
Kodim 1403 Luwu
Kodim 1404 Pinrang
Kodim 1405 Pare-Pare
Kodim 1414 Tana Toraja
Kodim 1418 Mamuju
Kodim 1419 Enrekang
Kodim 1420 Sidrap
Kodim 1421 Pangkep
Pare-Pare

Korem 143 Haluoleo
Kodim 1412 Kolaka
Kodim 1413 Buton
Kodim 1416 Muna
Kodim 1417 Kendari
Kendari

Kodim 1408 BS Makassar

10
Kodam IX Udayana
Denpasar

Korem 161 Wirasakti
Kodim 1601 Sumba Timur
Kodim 1602 Ende
Kodim 1603 Sikka
Kodim 1604 Kupang
Kodim 1605 Belu
Kodim 1612 Manggarai
Kodim 1613 Sumba Barat
Kodim 1618 Timor Tengah Utara
Kodim 1621 Timor Tengah Selatan
Kodim 1622 Alor
Kodim 1624 Larantuka
Kodim 1625 Ngada
Kupang

Korem 162 Wirabhakti
Kodim 1606 Lombok Barat
Kodim 1607 Sumbawa
Kodim 1608 Bima
Kodim 1614 Dompu
Kodim 1615 Lombok Timur          
Kodim 1620 Lombok Tengah
Mataram

Korem 163 Wirasatya
Kodim 1609 Buleleng
Kodim 1610 Klungkung
Kodim 1611 Badung
Kodim 1616 Gianyar
Kodim 1617 Jembrana
Kodim 1619 Tabanan                                             
Kodim 1623 Karangasem
Kodim 1626 Bangli
Denpasar
11
Kodam XII Tanjungpura
Pontianak

Korem 102 Panju Panjung
Kodim 1011 Kuala Kapuas
Kodim 1012 Buntok
Kodim 1013 Muara Teweh
Kodim 1014 Pangkalan Bun
Kodim 1015 Sampit
Kodim 1016 Palangkaraya
Palangkaraya

Korem 121 Alambhana Wanawai
Kodim 1201 Mempawah
Kodim 1202 Sambas
Kodim 1203 Ketapang
Kodim 1204 Sanggau
Kodim 1205 Sintang
Kodim 1206 Putussibau
Kodim 1207 Pontianak
Sintang
12
Kodam XVI Patimura
Ambon

Korem 151 Binaya
Kodim 1502 Masohi
Kodim 1503 Tual
Kodim 1504 Ambon
Kodim 1506 Namlea
Kodim 1507 Saumlaki
Ambon

Korem 152 Baabullah
Kodim 1501 Ternate
Kodim 1505 Tidore
Kodim 1508 Tobelo
Kodim 1509 Labuha
Ternate
13       
Kodam XVII Cendrawasih
Jayapura

Korem 171 Praja Vira Tama
Kodim 1703 Manokwari
Kodim 1704 Sorong
Kodim 1710 Fak-Fak
Kodim 1713 Kaimana
Sorong

Korem 172 Praja Wira Yakthi
Kodim 1701 Jayapura
Kodim 1702 Jayawijaya
Kodim 1712 Sarmi
Jayapura

Korem 173 Praja Vira Braja
Kodim 1705 Paniai
Kodim 1708 Biak Numfor
Kodim 1709 Yapen Waropen
Biak

Korem 174 Anim Ti Waninggap
Kodim 1707 Merauke
Kodim 1710 Mimika
Kodim 1711 Boven Digul
Merauke